Penulis: Dr. Kusumaningdiah Retno Setiorini, S.E., M.Ak. Ak., CA.

Perluasan Dampak Ketegangan Iran–AS terhadap Stabilitas Indonesia – Prodi Akuntansi Alma Ata.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat pada tahun 2026 tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga meluas hingga memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Dampak ini terjadi melalui beberapa jalur utama, yaitu energi, fiskal, perdagangan, dan pasar keuangan. Dari sisi energi, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak sangat rentan terhadap gangguan pasokan global. Konflik yang berpotensi mengganggu distribusi melalui Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini meningkatkan biaya impor energi dan mendorong inflasi domestik. Bahkan, pemerintah memperkirakan kebutuhan tambahan subsidi energi bisa mencapai sekitar Rp100 triliun untuk menjaga stabilitas harga dalam negeri.

Dampak juga terlihat pada sektor fiskal. Kenaikan subsidi energi dan tekanan terhadap anggaran negara dapat memperlebar defisit APBN. Pemerintah bahkan harus melakukan efisiensi anggaran untuk mengantisipasi dampak konflik tersebut. Selain itu, nilai tukar rupiah mengalami tekanan akibat arus modal keluar (capital outflow) dan meningkatnya ketidakpastian global. Di sektor perdagangan, kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang, yang pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan pokok masyarakat. Jalur perdagangan global juga berpotensi terganggu, sehingga memperlambat arus barang dan meningkatkan biaya logistik.

Namun demikian, struktur ekonomi Indonesia yang didominasi konsumsi domestik memberikan daya tahan tersendiri dalam menghadapi guncangan eksternal. Pemerintah juga berperan sebagai “shock absorber” melalui kebijakan fiskal dan subsidi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Dengan demikian, konflik Iran–AS memperluas tekanan terhadap stabilitas Indonesia, namun dengan kebijakan yang tepat, dampaknya masih dapat dikendalikan.