Penulis: Dr. Kusumaningdiah Retno Setiorini, S.E., M.Ak. Ak., CA.
Dampak Ketegangan Iran–AS terhadap Kondisi Ekonomi Global 2026 – Prodi Akuntansi Alma Ata.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat pada tahun 2026 memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global. Konflik yang melibatkan gangguan di Selat Hormuz—jalur strategis bagi sekitar 20% distribusi minyak dunia—menyebabkan lonjakan harga energi secara drastis. Harga minyak dunia bahkan menembus lebih dari USD 110 per barel akibat terganggunya pasokan global. Kenaikan harga energi ini memicu efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Biaya transportasi, produksi, dan logistik meningkat, yang pada akhirnya mendorong inflasi global. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa konflik ini telah memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan risiko stagflasi, yaitu kondisi pertumbuhan rendah disertai inflasi tinggi . Selain itu, negara-negara berkembang menjadi pihak yang paling terdampak karena ketergantungan tinggi pada impor energi dan pangan.
Dari sisi pasar keuangan, ketidakpastian geopolitik memicu volatilitas yang tinggi. Pasar saham global mengalami penurunan, sementara investor cenderung beralih ke aset aman seperti emas. Gangguan rantai pasok juga menyebabkan kelangkaan energi dan bahan baku industri, sehingga menekan produksi global. Tidak hanya berdampak global, konflik ini juga memengaruhi ekonomi domestik berbagai negara, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan harga bahan bakar, yang kemudian berdampak pada daya beli masyarakat. Dengan demikian, ketegangan Iran–AS pada 2026 menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk ketidakpastian ekonomi global, meningkatkan inflasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
