Penulis: Dr. Kusumaningdiah Retno Setiorini, SE., Ak., M.Ak., CA.

Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan tsunami membawa dampak ekonomi yang signifikan terhadap perusahaan dan perekonomian nasional. Dalam konteks akuntansi, mitigasi ekonomi bertujuan untuk mengukur, mengendalikan, dan melaporkan efek finansial dari bencana sehingga pemangku kepentingan mendapatkan informasi yang transparan dan dapat diandalkan.

Peran akuntansi dalam mitigasi ekonomi mencakup identifikasi risiko finansial dan pencatatan dampak langsung maupun tidak langsung. Risiko langsung berupa kerusakan aset tetap, persediaan terbuang, dan biaya perbaikan. Risiko tidak langsung berupa gangguan operasional, penurunan pendapatan, dan biaya tambahan seperti relokasi karyawan (IFAC, 2017). Akuntan harus menerapkan perlakuan akuntansi sesuai standar akuntansi yang berlaku, termasuk PSAK 57 tentang Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Penghentian Operasi serta PSAK 73 tentang Sewa bila terjadi perubahan penggunaan aset pascabencana (Ikatan Akuntan Indonesia, 2019).

Dalam mitigasi, akuntansi manajemen berperan dalam penyusunan anggaran kontinjensi dan perencanaan pemulihan. Analisis varians dan biaya relevan membantu pengambil keputusan dalam menentukan tindakan perbaikan dan prioritas pemulihan usaha (Horngren et al., 2013). Selain itu, akuntansi berkelanjutan (sustainability accounting) semakin penting karena bencana alam berdampak pada aspek sosial dan lingkungan perusahaan. Pengungkapan yang komprehensif dalam laporan keberlanjutan dapat memperkuat kepercayaan investor dan pemangku kepentingan lain terhadap kesiapan perusahaan menghadapi risiko bencana di masa depan (GRI, 2021).

Implementasi teknologi seperti sistem informasi akuntansi berbasis cloud juga mempercepat pencatatan pascabencana serta meminimalkan risiko kehilangan data finansial. Secara keseluruhan, akuntansi tidak hanya sebagai alat pencatatan, tetapi juga sebagai instrumen strategi mitigasi yang kritikal untuk mempertahankan keberlanjutan ekonomi perusahaan setelah bencana alam.