Generasi Z hidup di zaman yang serba cepat. Peluang mendapatkan uang kini terbuka lebar: dari freelance, content creator, affiliate marketing, hingga kerja paruh waktu berbasis digital. Uang bisa datang tanpa harus menunggu akhir bulan. Namun, ironisnya, kecepatan uang datang sering kali sebanding dengan kecepatan uang pergi. Inilah dilema finansial yang diam-diam dialami banyak Gen Z. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang akrab dengan konsep “menunggu”, Gen Z tumbuh dalam budaya instan. Sekali klik, barang datang. Sekali scroll, keinginan muncul. Sistem pembayaran digital, e-wallet, dan paylater membuat transaksi terasa ringan, nyaris tanpa rasa kehilangan. Uang tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang “habis”, melainkan hanya berpindah layar. Di sinilah persoalan bermula.
Banyak Gen Z sebenarnya sudah mengenal istilah literasi keuangan. Mereka tahu pentingnya menabung, investasi, dan dana darurat. Namun, pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku. Dalam praktiknya, keputusan keuangan sering dikalahkan oleh dorongan gaya hidup, FOMO, dan tekanan sosial media. Healing dianggap kebutuhan, nongkrong dianggap kewajaran, sementara menunda kesenangan terasa seperti kehilangan momen. Masalahnya bukan semata pada pengeluaran besar, tetapi pada pola kecil yang berulang. Kopi harian, langganan aplikasi, diskon yang terasa “sayang dilewatkan”, semuanya tampak sepele. Namun ketika dikumpulkan, kebocoran ini membuat keuangan rapuh. Uang datang cepat, tetapi tidak pernah benar-benar menetap.
Di sisi lain, sebagian Gen Z juga menghadapi ketidakpastian pendapatan. Pekerjaan fleksibel memang memberi kebebasan, tetapi tidak selalu menjamin stabilitas. Penghasilan bisa tinggi di satu bulan, lalu turun drastis di bulan berikutnya. Tanpa perencanaan, fluktuasi ini memicu stres finansial yang sering kali disembunyikan di balik unggahan estetik. Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan untuk terlihat “baik-baik saja” membuat banyak Gen Z enggan mengakui kesulitan keuangan. Media sosial menciptakan standar hidup semu, seolah semua orang sukses di usia muda. Akibatnya, keputusan finansial sering diambil bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan demi validasi.
Dilema finansial Gen Z sejatinya bukan soal malas menabung atau boros semata. Ini adalah persoalan ekosistem: sistem keuangan digital yang agresif, budaya konsumsi yang masif, dan minimnya ruang refleksi tentang makna uang. Uang diperlakukan sebagai alat memenuhi gaya hidup, bukan sebagai sarana membangun ketahanan hidup. Solusinya bukan menghakimi, melainkan membangun kesadaran baru. Gen Z perlu melihat uang bukan hanya dari seberapa cepat ia diperoleh, tetapi dari seberapa lama ia bisa bertahan dan memberi rasa aman. Mengelola keuangan bukan berarti anti menikmati hidup, melainkan memastikan hidup tetap berjalan saat keadaan tidak ideal. Pada akhirnya, tantangan Gen Z bukan mencari uang, tetapi menaklukkannya. Sebab uang yang datang cepat tanpa kendali, hanya akan pergi lebih cepat meninggalkan pelajaran yang mahal di usia yang seharusnya penuh peluang.
