Penulis: Abi Suryono, SE., Ak., M.Ak., AWP., CA., CIMM.

Pada masa lalu, pelajaran akuntansi sering dipersepsikan siswa sebagai sesuatu yang rumit dan membosankan. Akuntansi identik dengan buku besar yang tebal, kolom debit dan kredit, serta perhitungan manual yang memerlukan ketelitian tinggi. Namun, seiring perkembangan zaman, cara pandang tersebut mulai berubah. Bentuk uang tidak lagi terbatas pada uang tunai, dan praktik akuntansi pun ikut menyesuaikan diri. Kehadiran uang digital serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat akuntansi menjadi lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari, khususnya bagi generasi muda.

Saat ini, berbagai transaksi keuangan dilakukan secara digital. Membeli makanan bisa cukup dengan memindai kode QR, mengirim uang dapat dilakukan melalui ponsel, dan menabung tidak lagi mengharuskan seseorang datang langsung ke bank. Tanpa disadari, aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses akuntansi. Bedanya, pencatatan tidak lagi dilakukan secara manual, melainkan dikelola oleh sistem digital yang secara otomatis merekam pemasukan, pengeluaran, dan saldo secara langsung.

Perkembangan teknologi inilah yang mengubah wajah akuntansi modern. Saat ini, sistem akuntansi telah memanfaatkan perangkat lunak dan AI untuk mengolah data keuangan. Jika sebelumnya perhitungan dilakukan satu per satu oleh manusia, kini komputer mampu menyelesaikannya dengan cepat dan akurat. Bahkan, teknologi AI dapat membantu mengidentifikasi kesalahan pencatatan atau pola transaksi yang tidak biasa. Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi tidak lagi berfokus pada hafalan rumus, melainkan pada pemahaman aliran keuangan dan pengambilan keputusan yang tepat.

Bagi siswa SMA, perubahan ini menjadikan pelajaran akuntansi terasa lebih relevan dan menarik. Akuntansi tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang bercita-cita menjadi akuntan, tetapi juga penting dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pemahaman akuntansi, siswa dapat belajar mengatur uang saku, menentukan prioritas antara kebutuhan dan keinginan, serta mengenali risiko penggunaan utang di era digital. Pengetahuan ini menjadi bekal penting agar generasi muda mampu mengelola keuangan dengan bijak.

Selain itu, perkembangan akuntansi juga menghadirkan beragam peluang karier baru. Saat ini, muncul profesi seperti analis data keuangan, konsultan sistem akuntansi digital, hingga tenaga ahli keuangan berbasis teknologi. Profesi-profesi tersebut membutuhkan dasar akuntansi yang kuat, disertai kemampuan berpikir kritis dan pemahaman teknologi. Oleh karena itu, mempelajari akuntansi sejak SMA justru menjadi langkah awal untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.

Akuntansi masa kini tidak lagi sebatas mencatat debit dan kredit di atas kertas. Akuntansi telah berkembang menjadi bahasa keuangan di era digital. Dengan dukungan uang digital dan AI, akuntansi menjadi lebih efisien, cerdas, dan dekat dengan kehidupan siswa. Jika dipelajari dengan pendekatan yang tepat, akuntansi dapat menjadi pelajaran yang menarik, aplikatif, dan sangat berguna untuk masa depan. Tidak mengherankan jika akuntansi sekarang terasa berbeda, karena dunia di sekitarnya pun terus berubah.